Tidak semua perjalanan dimulai dengan langkah.
Sebagian dimulai dengan rasa lelah.
Lelah menjelaskan.
Lelah menjawab.
Lelah merasa harus sampai.
Barangkali itulah awal dari perjalanan ini.
Aku pernah mengira bahwa hidup adalah soal menemukan jawaban yang tepat.
Membaca lebih banyak, memahami lebih dalam, merapikan keyakinan,
hingga suatu hari segalanya terasa utuh.
Namun yang datang justru sebaliknya.
Semakin banyak jawaban, semakin terasa bising.
Semakin rapi penjelasan, semakin jauh dari keheningan.
Di suatu titik, aku berhenti menambah.
Bukan karena sudah tahu,
melainkan karena mulai sadar:
ada sesuatu yang tidak bisa dikejar dengan pikiran yang berlari.
Perjalanan ini panjang karena tidak menuju tempat baru.
Ia justru mengarah ke yang paling dekat,
namun paling sering terlewat.
Ke napas yang selama ini otomatis.
Ke doa yang diucapkan tanpa hadir.
Ke pertanyaan yang selalu ditunda karena terlalu sunyi.
Tidak ada lompatan besar.
Tidak ada momen dramatis.
Hanya pelan-pelan menyadari bahwa diam pun punya suara,
dan suara itu tidak bisa didengar saat kita sibuk menjadi siapa-siapa.
Blog ini bukan penanda bahwa perjalanan telah selesai.
Justru sebaliknya—
ia adalah pengakuan bahwa perjalanan ini masih berlangsung.
Tulisan-tulisan ke depan mungkin tidak konsisten.
Ada hari-hari penuh keyakinan,
ada hari-hari penuh kebingungan.
Dan itu disengaja.
Karena hidup yang sungguh-sungguh dihidupi
tidak selalu rapi.
Jika kamu membaca ini dan merasa:
“aku juga sedang berjalan, tapi tidak tahu ke mana,”
maka kita berada di jalan yang serupa.
Kita tidak perlu mempercepat langkah.
Tidak perlu saling mendahului.
Cukup berjalan dengan jujur.
Dan sesekali berhenti.
Di ruang hening.

Leave a comment