Aku sangat menginginkan agar tak ada seorang pun yang menderita karena ceritaku.
Aku tidak senang ketika sahabatku menghalangi sejumlah orang yang ingin melemparkan dirinya kepadaku selama sama’.
Aku telah mengatakan ratusan kali agar tidak seorang pun berhasrat untuk berbicara denganku. Hanya dengan demikian dan dalam keadaan demikian aku merasa puas.
Aku dicintai oleh mereka yang datang mengunjungiku. Dan demikianlah aku menggubah syair untuk menjamu mereka.
Kalau tidak, mereka menjadi bosan.
Kalau tidak, apakah untuk bumi aku akan menyemburkan syair?
Aku dikesalkan syair.
Aku tidak berpikir ada sesuatu yang lebih buruk dari syair.
Itu seperti seseorang yang mengambil babat kemudian dia mencucinya untuk disuguhkan pada tamu yang menginginkan babat itu.
Karena itulah aku menggubah syair.
Manusia mesti melihat ke kota untuk memperhatikan barang yang dibutuhkan dan yang akan dibeli.
Orang akan membeli barang yang dibutuhkannya meskipun barang itu adalah dagangan paling buruk mutunya.
Aku telah mempelajari berbagai cabang pengetahuan dan memperoleh luka yang dalam agar para terpelajar, mistikus, orang pandai, serta pemikir, datang kepadaku untuk memperluas sesuatu yang berharga, ajaib, dan tepat.
Tuhan pun menginginkan hal ini. Karena itu Dia mengumpulkan seluruh studi disini dan memposisikanku dengan segenap penderitaan ini hingga aku mesti menyibukkan diri dengan tugas ini.
Apa yang mesti aku lakukan?
Di negeri kami dan di antara orang kami,
tidak ada yang lebih tidak dihormati daripada pekerjaan menjadi penyair.
Sudahkah kita kembali ke negeri asal kita?
Kami akan hidup dalam keselarasan dengan selera mereka
dan melakukan apa yang mereka inginkan,
misalnya pengajaran, menulis buku, berkhutbah, melakukan kezuhudan,
dan mengerjakan perbuatan saleh.

Leave a comment