Mengenal susunan diri adalah bagian dari perjalanan panjang mengenal diri itu sendiri. Ia bukan sekadar upaya intelektual untuk memahami “siapa aku”, melainkan sebuah proses batin yang perlahan memisahkan antara pelaku dan alat yang digunakannya.
Mengetahui susunan diri membuat kita sadar: tidak semua yang kita alami adalah “aku”. Ada tubuh yang bergerak, ada pikiran yang berisik, ada perasaan yang datang dan pergi. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang menyaksikan.
Dan di sanalah pencarian dimulai.
Beragam Pembagian, Satu Tujuan
Setiap budaya, agama, dan bahkan setiap individu memiliki cara sendiri untuk membagi dan menjelaskan susunan diri. Pembagian ini lahir dari sudut pandang, pengalaman, dan bahasa yang berbeda-beda.
Istilahnya beragam. Jumlah lapisannya pun berbeda.
Ada yang membaginya menjadi dua, empat, lima, tujuh, atau lebih. Namun bagi mereka yang telah menyentuh pengalaman trensendensi di kedalaman batin, perbedaan istilah dan jumlah lapisan bukanlah persoalan. Mereka tetap saling memahami—karena yang ditunjuk sejatinya sama.
Yang berbeda hanyalah peta, bukan wilayahnya.
Tubuh dan Kesadaran dalam Pandangan Modern
Dalam sains modern, manusia kerap dibagi menjadi dua unsur utama: tubuh dan kesadaran.
Tubuh mencakup badan fisik, naluri, insting, keinginan, pikiran kognitif, ego, dan berbagai proses mental lain yang seluruhnya berakar pada otak. Sementara kesadaran—yang menyadari semua itu—masih menjadi misteri besar, terus diteliti, namun tak pernah benar-benar tertangkap sepenuhnya.
Kesadaran selalu selangkah di depan alat ukur.
Pembagian dalam Tradisi Timur
Dalam Filsafat Jawa, dikenal konsep Sadulur Papat Kalima Pancer—empat unsur pengiring dan satu pusat. Sebuah pandangan yang menempatkan “aku sejati” bukan pada lapisan luar, melainkan pada pancer: pusat kesadaran.
Dalam Tasawuf, para Sufi membagi diri ke dalam berbagai lapisan seperti jasad, nafs, qalb, ruh, dan seterusnya. Ada pula istilah fu’ad, khafi, akhfa, sirr—lapisan-lapisan yang semakin halus dan dalam.
Menariknya, istilah-istilah ini sering saling bertumpang tindih. Ruh kadang disebut sebagai fu’ad dan bertingkat-tingkat lagi. Nafs dibagi lagi menjadi beberapa tingkat. Ini menunjukkan bahwa yang dijelaskan bukan struktur mekanis, melainkan pengalaman batin yang sulit dikurung oleh bahasa.
Advaita Vedanta pun memiliki pembagiannya sendiri: Sarira, Panca Kosa, Antahkarana, Avastha-traya, hingga Atman–Brahman. Sebuah penjelasan filosofis yang pada akhirnya menunjuk pada satu kesadaran non-dual.
Benang Merah di Lapisan Terakhir
Entah dibagi menjadi berapa lapis dan dinamai dengan istilah apa pun, semua sistem ini memiliki satu benang merah yang sama:
ada lapisan terakhir.
Lapisan yang tidak lagi bisa dibagi.
Lapisan yang tidak bisa diamati sebagai objek.
Lapisan yang hanya bisa disadari dengan menjadi.
Perjalanan batin sejatinya adalah perjalanan menuju lapisan terakhir ini.
Mengenal diri adalah usaha perlahan untuk mengenali lapisan tersebut.
Dan pulang—dalam makna terdalamnya—adalah kembali ke sana.
“Matilah sebelum mati,” kata para Sufi.
Matilah sebagai identitas, sebagai ego, sebagai cerita diri—agar yang tersisa hanyalah kesadaran murni.
Pulang, Cepat atau Lambat
Jika kita tidak mampu pulang sendiri dari perantauan ini, suatu hari kita akan dijemput. Cepat atau lambat, setiap orang akan dipaksa melepaskan lapisan-lapisan yang selama ini ia sangka sebagai dirinya. Dan itu akan menyakitkan.
Di antara manusia, ada mereka yang telah mampu bolak-balik: hadir penuh di dunia, namun akrab dengan “alam sana”. Tubuhnya di sini, kesadarannya tak terikat di sini.
Pertanyaan yang Masih Terbuka
Manusia menjelajahi langit, namun dasar laut pun belum sepenuhnya kita pahami.
Manusia meneliti dasar laut, namun tanah tempat kita berpijak pun masih menyimpan misteri.
Dan di antara semua penelitian itu, penelitian tentang kesadaran diri sendiri justru masih jauh dari selesai.
Maka pertanyaannya sederhana, namun menggugah:
Mau melangkah ke mana lagi kita, jika bukan ke dalam?

Leave a comment