Stasiun Terakhir Sebelum Rumah

Pada akhirnya, hasrat tetap membara. Pikiran tetap berkelana. Rasa tetap menggema. Tidak dikekang. Tidak dipasung. Tidak ditindas.

Aku hanya menjaga jarak—cukup dekat untuk memahami, cukup jauh untuk tidak larut. Aku memperhatikan mereka dengan bijak, sebagai saksi yang sadar. Sebab mereka bukan kesalahan. Mereka bukan musuh.

Mereka adalah cara Allah SWT menyusun skenario kehidupan—bagiku, dan bagi orang-orang di sekelilingku.

Hasrat, pikiran, dan rasa tak ubahnya seperti anak-anak kecil: perlu dibimbing, dituruti secukupnya, dan dicegah ketika mulai melampaui batas.

Ketersingkapan dari mereka tidak terjadi karena perlawanan. Ia terjadi ketika kita rela. Bukan saat mereka disingkirkan, melainkan saat kita berhenti berperang.

Mereka adalah rekan hidup. Kehidupan memang diwarnai oleh mereka—itulah sunnatullah. Dan kita hanya diminta untuk menyaksikannya dengan tenang, dengan ridho. Saat hasrat menuntut. Saat hati dilanda sedih. Saat pikiran terasa penuh dan pusing. Semuanya cukup direlakan.

Itulah lakon. Itulah seni kehidupan—yang kadang menanjak, kadang menurun, dan tak pernah benar-benar diam.

Hakikat pengendalian hasrat bukan ketika hasrat itu lenyap, melainkan ketika kita mampu melayaninya secukupnya.

Hakikat pengendalian rasa bukan ketika kesedihan tak pernah datang, melainkan ketika kita bisa rela dan bersyukur dalam sedih, sebagaimana kita bersyukur dalam senang.

Dan hakikat pengendalian pikiran bukan ketika ia selalu mampu memecahkan masalah hidup, melainkan ketika kita mampu berkata: “Cukup.” Ada batas yang tak perlu dipikirkan. Ada ruang yang tak perlu dilibatkan.

Dan ada masa— di mana aku bersendiri seutuhnya. Tanpa hasrat. Tanpa rasa. Tanpa pikiran.

Hanya ada kesadaran yang hening, dan kehadiran yang utuh.

Leave a comment