Pada awal abad ke-20, ilmu pengetahuan berada di puncak kepercayaan dirinya. Dunia tampak bisa dipetakan, diukur, dan dijelaskan. Kesadaran dianggap sekadar produk otak, pengalaman hanyalah efek samping aktivitas neuron, dan “aku” hanyalah ilusi biologis yang kebetulan berguna untuk bertahan hidup.
Namun justru di titik ini, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Semakin dalam para ilmuwan menyelidiki kesadaran, semakin kabur objek yang mereka teliti. Seolah-olah kesadaran tidak mau diperlakukan sebagai benda. Ia hadir di setiap pengukuran, tetapi selalu lolos dari definisi. Mereka mulai menyadari satu hal yang tidak nyaman: peneliti dan yang diteliti ternyata tidak sepenuhnya terpisah.
Di sanalah benih non-dual awareness mulai dirumuskan — bukan sebagai ajaran spiritual, melainkan sebagai jalan keluar dari kebuntuan ilmiah.
Krisis dalam Studi Kesadaran
Dalam pendekatan klasik, kesadaran dipahami secara dualistik:
- Ada subjek (pengamat)
- Ada objek (yang diamati)
Model ini bekerja baik untuk planet, atom, dan sel. Tapi saat objek penelitiannya adalah kesadaran itu sendiri, model ini mulai runtuh.
Aku meneliti Aku.
Bagaimana mungkin kesadaran mengamati kesadaran tanpa membelah dirinya?
Para ilmuwan menyebut ini the hard problem of consciousness. Namun sebagian dari mereka diam-diam menyadari bahwa masalahnya bukan “keras”, melainkan salah cara bertanya.
Francisco Varela dan Keberanian Menyeberang
Salah satu tokoh kunci adalah Francisco Varela — seorang ahli biologi, neuroscientist, dan filsuf sains. Ia bukan mistikus. Ia peneliti serius dengan reputasi akademik kuat.
Namun Varela mengambil langkah yang jarang dilakukan ilmuwan:
ia menggabungkan meditasi Buddhis dengan riset neuroscience.
Bersama Evan Thompson dan Eleanor Rosch, ia menulis buku The Embodied Mind (1991). Di sana, ia mengajukan ide radikal:
Kesadaran tidak bisa dipahami dari luar saja.
Ia harus diselidiki juga dari dalam.
Varela menyebut pendekatan ini neurophenomenology — sebuah metodologi yang menggabungkan:
- data objektif (otak, saraf)
- laporan pengalaman langsung (first-person experience)
Dalam proses inilah muncul satu temuan konsisten:
pada kedalaman pengalaman tertentu, pemisahan antara pengamat dan yang diamati menghilang.
Varela tidak menyebutnya Tuhan.
Ia tidak menyebutnya jiwa.
Ia menyebutnya non-dual awareness — istilah netral untuk menunjuk pengalaman kesadaran tanpa subjek-objek.
Dari Fenomenologi ke Kesadaran Murni
Di sisi lain, tradisi filsafat Barat juga sedang bergerak ke arah yang sama.
Fenomenologi — dimulai dari Edmund Husserl dan dilanjutkan oleh Merleau-Ponty — mencoba kembali ke “pengalaman sebagaimana adanya”. Namun ketika pengalaman diselidiki tanpa asumsi, para filsuf menemukan bahwa “aku” bukan pusat tetap, melainkan proses yang muncul dan lenyap.
Kesadaran tampak lebih dulu hadir, sebelum ada identitas.
Di titik ini, bahasa lama tidak cukup. Istilah seperti “self”, “mind”, atau “subject” terlalu sarat asumsi. Maka muncullah kebutuhan akan istilah baru — deskriptif, bukan metafisik.
Dialog dengan Timur, Tanpa Menjadi Religius
Para ilmuwan ini bukan sedang “berpindah agama”. Mereka berdialog.
Varela berdiskusi dengan praktisi Dzogchen Tibet.
Psikolog modern membaca Zen.
Neuroscientist mempelajari Advaita, bukan sebagai dogma, tetapi sebagai peta pengalaman.
Yang mereka temukan mengejutkan:
pengalaman yang dilaporkan para meditator senior konsisten lintas budaya.
- Tidak ada pusat
- Tidak ada jarak
- Tidak ada pengamat terpisah
- Hanya kehadiran yang menyadari dirinya sendiri
Untuk menunjuk pengalaman ini tanpa membawa muatan teologis, istilah non-dual awareness dipilih.
Bukan kebenaran absolut.
Bukan kesimpulan metafisik.
Melainkan penamaan fenomenologis.
Ketika Ilmu Menyentuh Batasnya
Menariknya, banyak ilmuwan yang mendekati non-dual awareness tidak mengumumkannya sebagai “penemuan”. Mereka justru berhenti membuat klaim besar.
Karena di titik ini, klaim itu sendiri terasa berlebihan.
Non-dual awareness tidak ditemukan seperti planet baru.
Ia disadari ketika pemisahan yang diasumsikan ternyata tidak pernah ada.
Dan ini mengubah cara melihat segalanya:
- pengetahuan
- subjek
- bahkan pertanyaan itu sendiri
Bukan Akhir, Tapi Keheningan
Istilah non-dual awareness lahir bukan dari wahyu, tetapi dari kejujuran intelektual. Dari keberanian untuk mengakui bahwa kesadaran tidak mau dipaksa masuk ke kerangka lama.
Ia adalah tanda bahwa di batas tertentu, ilmu pengetahuan tidak runtuh —
ia menjadi hening.
Dan mungkin, di sanalah ia akhirnya jujur.

Leave a comment