Mengapa seseorang menjadi rajin beribadah?
Pertanyaan ini sering dijawab secara sederhana: karena ia merasakan kenikmatan. Hatinya tenang, dadanya lapang, air matanya mudah mengalir. Ibadah baginya bukan beban, melainkan kebutuhan. Namun jawaban itu hanya melihat satu sisi dari kenyataan yang lebih dalam.
Sesungguhnya ada dua pintu dalam perjalanan ibadah: pintu kenikmatan dan pintu pengorbanan. Kebanyakan orang hanya mengenal yang pertama, padahal sebagian besar jiwa harus melewati yang kedua.
Pintu Kenikmatan: Ketika Ibadah Menjadi Rasa
Ada fase ketika ibadah terasa manis. Zikir menjadi candu, sujud menjadi tempat pulang, doa terasa intim dan hidup. Inilah saat hati mulai tersentuh oleh dzauq—rasa batin yang tak dapat dijelaskan oleh logika semata.
Secara psikologis, kenikmatan memang mengikat. Apa pun yang menghadirkan rasa senang akan membentuk kecenderungan untuk mengulanginya. Maka tidak heran jika sebagian orang menjadi rajin beribadah karena menemukan kenikmatan di dalamnya.
Namun dalam pandangan sufistik, kenikmatan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah isyarat—seperti angin sepoi yang memberi tanda bahwa seseorang sedang berjalan ke arah yang benar. Bila kenikmatan dijadikan tujuan, ibadah berubah menjadi pencarian rasa, bukan lagi pencarian Tuhan.
Di sinilah letak bahayanya: seseorang bisa mencintai rasa dalam ibadah, bukan Dzat yang disembah.
Pintu Pengorbanan: Jalan yang Sunyi dan Menyakitkan
Sebagian yang lain tidak menemukan kenikmatan sedikit pun dalam ibadah. Shalat terasa lama. Zikir terasa kering. Waktu terasa terbuang. Pikiran berontak, hati tidak sabar, tubuh enggan bergerak.
Sering kali mereka menyimpulkan bahwa diri mereka tertolak. Bahwa Tuhan tidak menyukai mereka. Bahwa dosa telah menutup pintu rasa.
Padahal mungkin bukan itu yang terjadi.
Dalam banyak perjalanan ruhani, justru pintu pertama yang harus dilewati adalah pintu pengorbanan. Dan pengorbanan memang tidak nyaman. Ia menyakitkan, karena ia meminta sesuatu dari diri: waktu, tenaga, ego, dan kesenangan.
Inilah wilayah mujahadah—perjuangan melawan dorongan diri yang ingin serba mudah dan instan. Ibadah di sini bukan soal rasa, melainkan soal kesetiaan. Bukan soal kenikmatan, melainkan soal komitmen.
Di sinilah sudut pandang harus diubah.
Kita tidak sedang mencari kenikmatan dalam ibadah. Kita sedang mempersembahkan sesuatu. Kita sedang meluangkan waktu dan perhatian untuk Tuhan yang telah melimpahkan kebaikan tanpa henti kepada kita.
Maka setiap rasa berat, setiap keluh, setiap kebosanan yang muncul, bukan tanda kegagalan. Ia justru bagian dari persembahan itu sendiri.
Kesadaran atas Pengorbanan
Pengorbanan hanya bermakna jika disadari. Tanpa kesadaran, yang ada hanyalah keterpaksaan.
Jika seseorang beribadah dalam keadaan terpaksa namun tidak menyadari bahwa ia sedang berkorban, ia hanya akan merasa tersiksa. Tetapi ketika ia menyadari: “Aku sedang mengorbankan kenyamananku demi Tuhan,” maka rasa berat itu berubah menjadi nilai.
Pengorbanan ini perlahan melunakkan ego. Ego yang biasanya ingin diutamakan, kini dilatih untuk mundur. Ego yang selalu menuntut rasa, kini belajar untuk memberi tanpa menuntut balasan.
Dua Pintu yang Setara
Seorang yang diberi kenikmatan beribadah diuji ketulusannya dengan kenikmatan itu sendiri. Apakah ia mencari kenikmatan atau mencari kerelaan Tuhan?
Seseorang yang rela berkorban, meski tanpa rasa, perlahan akan disucikan dari motif-motif tersembunyi. Ia beribadah bukan karena ingin tenang, bukan karena ingin bahagia, tetapi karena memang itu yang seharusnya dilakukan.
Dan ketika apapun motifnya telah bersih, kenikmatan akan datang dalam cinta dan penyaksian terhadapNya semata.
Dari Rasa ke Makna
Akhirnya, perjalanan ibadah bukan sekadar perjalanan rasa, melainkan perjalanan makna.
Ada masa ketika kita beribadah karena menikmati.
Ada masa ketika kita beribadah karena memilih untuk setia.
Keduanya bukan lawan. Keduanya adalah dua pintu menuju kedekatan.
Namun sering kali, sebelum hati diberi manisnya kedekatan, ia harus belajar pahitnya pengorbanan. Pengorbanan karena memaksakan diri atau karena meninggalkan kenikmatan.
Dan di situlah ibadah berubah dari sekadar aktivitas, menjadi cinta yang matang.

Leave a comment