Antara Pengalaman dan Pengetahuan: Apa Itu Ilmu?

Ilmu sangatlah luas. Di dalamnya terdapat wilayah-wilayah abu-abu yang batasnya perlu diperjelas agar kita tidak mencampuradukkan antara sekadar pengalaman dengan pengetahuan yang sahih.

Kita mengetahui bahwa ilmu memiliki sisi positif dan negatif. Ada ilmu menanam padi, ada pula ilmu mencuri padi. Keduanya sama-sama berbentuk pengetahuan teknis tentang cara melakukan sesuatu. Maka secara netral, ilmu bukan pertama-tama soal moralitas, melainkan soal kebenaran dan keterterapan.

Namun sebelum sampai pada persoalan benar dan salah, kita perlu kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa itu ilmu?

Fenomena dan Kesadaran

Dari sudut pandang fenomenologi, segala sesuatu yang melintas di hamparan kesadaran adalah fenomena. Ia hadir melalui piranti indra atau melalui ingatan, dan tidak selalu menampakkan dirinya sebagaimana hakikatnya (noumena). Apa yang kita lihat, dengar, atau pikirkan adalah apa yang tampak bagi kesadaran—bukan selalu apa adanya dalam dirinya sendiri.

Di dalam kehidupan sehari-hari, ribuan fenomena lewat begitu saja tanpa pernah kita beri makna khusus. Kita makan nasi. Ibu melahirkan kita. Matahari terbit dan tenggelam. Semua itu hadir sebagai fenomena biasa—ia terjadi, kita menyaksikan, lalu berlalu.

Selama tidak ada pertanyaan, fenomena hanya menjadi arus pengalaman.

Namun ketika pertanyaan muncul, sesuatu yang biasa dapat berubah menjadi ilmu.

Misalnya: “Apa yang dimakan manusia?” Jawaban “manusia makan nasi” bukan lagi sekadar peristiwa makan yang biasa, melainkan menjadi jawaban atas sebuah pertanyaan. Fenomena umum tadi mendapatkan tempat istimewa dalam kesadaran. Ia diangkat dari arus keseharian dan diberi status sebagai pengetahuan.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa ilmu lahir dari pertemuan antara fenomena dan pertanyaan.

Ilmu Bergantung pada Subjek

Manusia primitif memakan tumbuhan dan hewan setiap hari. Selama itu hanya dijalani tanpa dipertanyakan, ia tetap menjadi fenomena biasa. Namun ketika muncul pertanyaan, “Apa yang bisa kita makan?” maka jawabannya menjadi ilmu.

Ilmu dengan demikian tidak berdiri terpisah dari subjek yang bertanya. Ia membutuhkan kesadaran yang mempertanyakan.

Al-Qur’an, misalnya, adalah ilmu. Tetapi bagi hewan, ia tidak menjadi ilmu, karena hewan tidak memiliki kapasitas untuk bertanya, memahami, atau merumuskan makna. Jika hewan merusaknya, ia tidak berdosa. Dosa hanya relevan bagi makhluk yang mampu bertanya dan mengetahui.

Di sini tampak bahwa ilmu memiliki dimensi tanggung jawab. Manusia membawa potensi pertanyaan dalam dirinya. Bahkan ketika ia tidak secara sadar merumuskannya, kegelisahan eksistensial tetap ada. Ketika potensi bertanya ini diabaikan—karena sibuk mengejar dunia atau menenggelamkan diri dalam rutinitas—maka manusia menyempitkan dirinya sendiri.

Ilmu bukan sekadar akumulasi informasi, tetapi jawaban atas pertanyaan mendasar tentang realitas.

Mengetahui dan Mengingat

Mengetahui berbeda dengan mengingat. Seseorang dapat lupa, tetapi ia tetap pernah tahu. Ingatan bisa hilang dan kembali, tetapi mengetahui adalah peristiwa hadirnya sesuatu dalam kesadaran sebagai sesuatu yang dipahami.

Ketika sebuah fenomena melintas di hadapan kesadaran—baik melalui indra maupun ingatan—dan ia dikenali dalam kerangka jawaban atas pertanyaan, maka ia menjadi ilmu.

Tanpa pertanyaan, fenomena tetaplah fenomena.

Kebenaran dan Pembuktian

Namun tidak setiap jawaban layak disebut ilmu. Jawaban bisa saja keliru, ngawur, atau tidak dapat diterapkan.

Misalnya dalam konteks negatif seperti mencuri rumah. Jika seseorang bertanya bagaimana membuka pintu tanpa kunci, lalu jawabannya adalah “tendang keras-keras,” maka itu bukan ilmu yang sahih jika ternyata tidak efektif atau justru membahayakan pelakunya. Ilmu harus sesuai dengan kenyataan—bukan kebenaran moral, melainkan kebenaran faktual: sebagaimana adanya dan dapat diterapkan.

Karena itu, ilmu mensyaratkan pembuktian. Ia harus teruji dalam kenyataan.

Sering kali suatu fenomena baru benar-benar menjadi ilmu setelah diuji dan dibuktikan. Dalam contoh manusia makan nasi, pembuktiannya telah kita lihat berulang kali dalam pengalaman.

Maka ilmu bukan sekadar fenomena yang diberi nama, tetapi fenomena yang:

  1. Diketahui oleh subjek,
  2. Menjadi jawaban atas pertanyaan,
  3. Dan terbukti benar dalam kenyataan.

Formulasi Ilmu

Dari seluruh uraian ini, kita dapat merumuskan secara ringkas:

Ilmu = fenomena + dapat diketahui + jawaban atas pertanyaan + terbukti benar

Fenomena adalah bahan mentahnya.

Pertanyaan adalah pintu masuknya.

Kebenaran adalah syarat sahnya.

Pembuktian adalah penguatnya.

Tanpa pertanyaan, dunia hanya menjadi arus pengalaman yang berlalu.

Tanpa kebenaran, jawaban hanya menjadi opini.

Tanpa pembuktian, ia hanya dugaan.

Ilmu lahir ketika kesadaran tidak puas menjadi penonton fenomena, melainkan berani bertanya dan menuntut kebenaran.

Dan mungkin di situlah martabat manusia bermula: pada keberaniannya untuk bertanya.

Sumber Ilmu

Kita tidak boleh menutup pintu terhadap kemungkinan datangnya ilmu dari berbagai arah. Ilmu tidak selalu bersumber dari buku, tradisi, atau pengalaman yang telah mapan. Ia bisa muncul dari dunia nyata yang kita saksikan sehari-hari, tetapi juga dapat lahir dari imajinasi yang tampak paling sunyi dan personal.

Bayangkan kita terdampar di sebuah pulau karang tandus tanpa makanan yang jelas dapat dikonsumsi. Tidak ada buku, tidak ada guru, tidak ada ingatan sebelumnya bahwa lumut bisa dimakan. Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba muncul sebuah ide dari kedalaman diri: bagaimana jika lumut itu dimakan?

Ide tersebut belumlah ilmu. Ia baru sebatas fenomena batin—sebuah kemungkinan yang melintas dalam kesadaran. Ia bisa disebut imajinasi, intuisi, atau bahkan ilham. Apa pun namanya, ia tetap berada dalam wilayah kemungkinan.

Fenomena “ide memakan lumut” baru dapat disebut ilmu ketika diuji dalam kenyataan. Jika lumut itu dimakan dan kita tetap hidup, bahkan memperoleh nutrisi darinya, maka barulah pernyataan “manusia dapat memakan lumut” memiliki status sebagai ilmu. Ia telah melewati tahap pembuktian.

Dari sini tampak bahwa sumber ilmu tidak menentukan keabsahannya. Ia bisa berasal dari buku, kebiasaan, pengamatan empiris, imajinasi, atau intuisi terdalam. Namun apa pun asalnya, ia harus tunduk pada satu syarat yang sama: kebenaran yang dapat dibuktikan.

Dengan demikian, imajinasi bukan lawan ilmu. Ia justru salah satu pintu awalnya. Tetapi imajinasi hanya menjadi ilmu ketika ia bersedia diuji oleh kenyataan.

Leave a comment