Tentang Cinta dan Kasih Sayang

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…

Pada awal perjalanan batin, kita sering mengira bahwa puncak relasi spiritual adalah cinta. Cinta terasa tinggi, agung, mengguncang. Ia memiliki daya tarik yang kuat. Ia menggerakkan hati untuk mendekat, merindu, mencari. Dalam pengalaman manusia, cinta adalah api—ia membakar, menuntut, bahkan kadang melukai. Karena itu kita cenderung menganggap cinta sebagai bentuk relasi paling dalam yang mungkin ada.

Namun jika direnungkan lebih jauh, ada sesuatu yang lebih tenang dan lebih matang daripada cinta: kasih sayang.

Cinta memiliki intensitas. Ia memilih, ia condong, ia terarah. Cinta sering lahir dari kekaguman atau kebutuhan akan penyatuan. Dalam cinta ada gerak menuju, ada kerinduan untuk mendekat dan melebur. Bahkan dalam bentuk paling murninya, cinta tetap memiliki dimensi “aku dan Engkau”. Ada yang mencintai, ada yang dicintai.

Kasih sayang berbeda.

Kasih sayang tidak bergejolak. Ia tidak menuntut. Ia tidak bergantung pada jarak atau kedekatan. Ia mengalir karena kepenuhan, bukan karena kekurangan. Kasih sayang tidak ingin memiliki, tidak ingin memastikan balasan, tidak ingin menyatu untuk menghapus jarak. Ia ingin merawat. Ia ingin menjaga. Ia ingin melindungi tanpa syarat.

Jika cinta adalah api, kasih sayang adalah matahari. Api bisa menyala besar, tetapi juga bisa padam.

Matahari mungkin tidak berkobar di hadapan mata kita, tetapi ia stabil, menerangi, dan menopang kehidupan tanpa henti.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa Allah disebut Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan Maha Pecinta.

Kasih sayang mengandung unsur mengayomi. Ia melindungi yang lemah, memelihara yang rapuh, menjaga yang bergantung. Kasih sayang bergerak dari yang kuat kepada yang membutuhkan. Ia bukan sekadar perasaan hangat, melainkan komitmen eksistensial untuk menopang kehidupan yang lain.

Dan Tuhan memang mengayomi. Tuhan memang memelihara. Tuhan memang melindungi.

Setiap detik keberadaan adalah bentuk pemeliharaan. Setiap napas adalah bukti penjagaan. Bahkan ketika manusia lalai, kasih sayang itu tetap bekerja. Ia tidak menunggu balasan. Ia tidak surut ketika diabaikan. Ia tidak berubah ketika manusia berubah. Ia tidak muncul karena ketertarikan, tetapi karena kemurahan. Ia bukan gerak menuju sesuatu yang kurang, melainkan limpahan dari kesempurnaan.

Karenanya, apakah pantas kita mengatakan bahwa manusia “mengasihi dan menyayangi” Tuhan?

Di sinilah bahasa menjadi jujur.

Mengasihi dan menyayangi mengandung unsur mengayomi, melindungi, dan merawat yang lebih lemah. Ketika seorang ibu menyayangi anaknya, ia berada pada posisi menjaga. Ketika seorang guru menyayangi muridnya, ia memelihara pertumbuhan mereka. Dalam kasih sayang ada struktur vertikal: yang kuat menopang yang lemah.

Kita tidak berada pada posisi itu terhadap Tuhan. Kita tidak melindungi-Nya. Kita tidak merawat-Nya. Kita tidak menopang-Nya. Justru sebaliknya.

Karena itu, lebih tepat jika dikatakan bahwa manusia mencintai Tuhan.

Cinta manusia kepada Tuhan bukanlah kasih sayang yang mengayomi, melainkan kerinduan yang merendah. Ia adalah gerak dari makhluk menuju Sumbernya. Ia adalah pengakuan akan ketergantungan total. Ia adalah keinginan untuk dekat, untuk selaras, untuk tidak berpaling.

Di sinilah mengapa para Sufi menyebut jalan mereka sebagai jalan cinta.

Bukan karena mereka menganggap Tuhan membutuhkan cinta mereka. Bukan karena mereka merasa mampu menyayangi Tuhan. Tetapi karena cinta adalah bahasa paling jujur dari kerinduan makhluk kepada Penciptanya. Cinta adalah gerak naik. Kasih sayang adalah limpahan turun.

Tuhan mengasihi dan menyayangi—karena Dia memelihara dan menjaga. Manusia mencintai—karena ia mencari dan kembali.

Dan ketika cinta manusia matang sepenuhnya, ia tidak lagi bergejolak. Ia menjadi tenang. Ia menjadi penyerahan. Ia tidak lagi ingin memiliki atau memastikan. Ia hanya ingin selaras. Pada titik itu, cinta manusia mulai menyerupai kasih sayang dalam kelembutannya—tetapi ia tetap berbeda dalam arah.

Kasih sayang Ilahi adalah dasar keberadaan. Cinta manusia adalah jawaban. Dan mungkin seluruh perjalanan spiritual dapat diringkas dalam satu gerak sederhana: Dari kasih sayang yang meliputi kita, lahirlah cinta yang mengembalikan kita.

Leave a comment