Ujian Tanpa Air Mata

Ada satu pengakuan yang jujur dalam batin manusia:

“Seandainya Allah memberiku ini dan itu, aku pasti akan lebih taat.”

Kalimat itu terdengar seperti doa, tapi sering kali ia hanyalah negosiasi halus antara ego dan Tuhan.

Kita membayangkan ketaatan sebagai buah dari kelapangan. Seolah-olah kekuranganlah yang membuat kita lalai, dan keberlimpahanlah yang akan membuat kita patuh. Padahal sejarah hati membuktikan sebaliknya: ketika nikmat datang, ia tidak selalu melahirkan syukur—ia sering melahirkan lupa.

Nikmat itu lembut. Ia tidak memaksa seperti musibah. Ia tidak mengguncang seperti kehilangan. Ia datang dengan kenyamanan, dengan rasa aman, dengan perasaan puas. Dan justru di situlah ujian paling halus bersembunyi.

Kesulitan membuat kita menengadah. Kenikmatan membuat kita terlena.

Para sahabat Rasulullah ﷺ memahami rahasia ini. Mereka tahu bahwa sabar itu berat, tetapi syukur lebih berat lagi. Sabar memaksa jiwa bertahan dalam sakit. Syukur menuntut jiwa tetap rendah hati dalam kelapangan. Sabar membuat kita menangis di hadapan Allah. Syukur menuntut kita tidak lupa ketika kita tertawa.

Setiap nikmat yang tidak membuat hamba semakin dekat kepada Allah, maka itu hanyalah musibah baginya.
~ Abu Hazim Salamah bin Dinar – Tabi’in

Dalam dilema, sebagian dari mereka lebih memilih diuji dengan kekurangan daripada diuji dengan kelimpahan. Karena dalam kekurangan, hati lebih mudah sadar akan ketergantungan. Sedangkan dalam kelimpahan, ego mudah menyusup dan berkata, “Aku mampu.”

Kita sering berharap:

“Ya Allah, beri aku rezeki yang lapang agar aku lebih khusyuk beribadah.”

Namun ketika kenyang datang, tubuh menjadi berat. Ketika harta datang, waktu terasa sempit. Ketika pujian datang, hati menjadi sibuk menjaga citra. Ketaatan yang dulu kita janjikan perlahan berubah menjadi penundaan.

Di titik ini, kita perlu jujur: mungkin masalahnya bukan pada kurangnya nikmat, tapi pada belum matangnya jiwa.

Ada kondisi yang lebih mengkhawatirkan daripada tidak mampu bersabar atas musibah: yaitu kufur setelah diberi nikmat. Musibah yang membuat kita menangis masih menyelamatkan. Nikmat yang membuat kita lupa bisa membinasakan tanpa terasa (istidraj).

Karena itu, menahan keinginan bukan sekadar latihan asketisme. Ia adalah penjagaan hati. Mengorbankan nafsu bukan karena dunia itu haram, tetapi karena kita tahu jiwa ini mudah lalai. Kita memilih sabar bukan karena kita mencintai penderitaan, tetapi karena kita takut kehilangan kesadaran.

Barangkali doa yang lebih dewasa bukan lagi:

“Ya Allah, beri aku ini dan itu agar aku taat.”

Melainkan:

“Ya Allah, jangan Engkau beri aku sesuatu yang membuatku jauh dari-Mu.”

Kenyang bukan masalah. Harta bukan masalah. Ketenangan bukan masalah.

Yang menjadi masalah adalah hati yang tidak siap menerima semua itu tanpa kehilangan Tuhan.

Maka sebelum meminta nikmat, mintalah kemampuan untuk bersyukur.

Sebelum meminta kelapangan, mintalah hati yang tetap tunduk dalam kelapangan.

Karena ujian terbesar bukan ketika kita tidak punya apa-apa.

Ujian terbesar adalah ketika kita memiliki segalanya—dan tetap merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan-Nya.

Leave a comment