Fase Kasih-Sayang

A hiker overlooks a misty mountain valley at sunrise from a rocky peak.

Ada satu fase dalam perjalanan batin ketika seseorang menyadari bahwa salah satu makna kehidupannya adalah untuk mengasihi.

Bukan karena dunia layak dikasihi.

Bukan karena manusia pantas diperlakukan lembut.

Tetapi karena cara kita memandang mereka selama ini ternyata terlalu keras.

Semula, yang muncul adalah rasa kasihan. Sebuah kesadaran sunyi bahwa setiap orang yang kita temui sebenarnya sedang kalah oleh sesuatu dalam hidupnya. Mereka kalah oleh keadaan, oleh masa lalu, oleh luka yang tidak pernah sempat sembuh, oleh ketakutan yang tidak pernah sempat diakui. Di titik ini, kita mulai melihat bahwa tidak ada manusia yang benar-benar “menang”. Semua orang, dengan caranya masing-masing, sedang merugi.

Namun lama-kelamaan terasa bahwa kasihan saja belum cukup. Di dalam kasihan masih ada jarak. Masih ada “aku yang melihat dia”. Masih ada posisi yang lebih tinggi tanpa disadari.

Lalu perlahan cara pandang itu bergeser.

Kita mulai melihat bahwa orang di depan kita bukan sekadar sosok dewasa dengan sikap menyebalkan atau perilaku menjengkelkan. Ia pernah berusia lima tahun. Ia pernah kecil, polos, takut gelap, menangis mencari ibunya. Dan tidak ada satu pun anak kecil yang pantas dibenci.

Di sini, kebencian mulai kehilangan pijakan.

Kita lalu menyadari hal lain: setiap perilaku kasar, sombong, pelit, atau menyakitkan bukanlah sifat asli, melainkan luka yang berbicara. Orang tidak sedang menjadi jahat; ia sedang menampilkan bagian dirinya yang paling terluka. Orang kasar karena ia pernah disakiti, orang sombong karena ia pernah direndahkan, orang pelit karena ia pernah kekurangan. Apa yang tampak sebagai keburukan, sering kali hanyalah mekanisme bertahan hidup yang salah arah.

Ketika ini dipahami, penghakiman runtuh dengan sendirinya.

Pandangan kita semakin melunak ketika menyadari bahwa hidup kita sendiri tersusun dari orang-orang yang tidak kita kenal. Nasi yang kita makan, jalan yang kita lewati, rumah yang kita tempati—semuanya ada karena kerja tangan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar hidup sendiri. Hidup kita adalah hasil dari kebaikan tak terlihat banyak manusia. Dan mungkin orang yang kita anggap menyebalkan itu ikut terlibat di dalamnya.

Dari sini, muncul rasa hormat yang sunyi.

Lalu kita mulai melihat kelelahan di wajah-wajah yang kita temui. Mereka mungkin tidak mengeluh, tidak bercerita, tidak menunjukkan apa-apa. Tapi mereka lelah. Lelah menjalani peran, lelah bertahan, lelah memikirkan hari esok. Dan tiba-tiba kita tidak lagi ingin menambah beban mereka dengan sikap keras kita.

Di dalam hati, tanpa suara, kita mulai mendoakan: semoga hidupmu diringankan.

Di saat yang sama, kita sadar bahwa apa pun yang mengganggu kita dari diri orang lain, ternyata juga ada di dalam diri kita. Kesombongan itu, kekasaran itu, egoisme itu—dalam bentuk yang berbeda—hidup di dalam diri kita sendiri. Orang lain menjadi cermin yang memantulkan sisi yang selama ini kita sembunyikan.

Tidak ada lagi posisi moral yang lebih tinggi.

Akhirnya, kesadaran paling melembutkan datang: kita semua fana. Orang yang kita benci, yang kita marahi, yang kita remehkan—akan mati. Kita pun akan mati. Semua ketegangan ini, semua penghakiman ini, suatu hari akan hilang bersama tubuh kita.

Yang tersisa hanyalah cara kita memperlakukan sesama selama masih sempat.

Dan pada titik itu, muncul pemahaman yang sangat sederhana namun mengguncang: semua manusia, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun, hanya ingin bahagia. Mereka hanya tidak tahu caranya. Mereka menempuh jalan yang salah, berbicara dengan cara yang salah, bertindak dengan cara yang salah—tetapi arah terdalamnya sama: ingin merasa baik, ingin merasa aman, ingin merasa dicintai.

Seperti kita.

Maka mengasihi bukan lagi keputusan moral.

Bukan ajaran agama.

Bukan sikap yang dipaksakan.

Ia menjadi konsekuensi alami dari cara melihat yang berubah.

Kita tidak lagi berusaha menjadi orang baik.

Kita hanya tidak bisa lagi memandang manusia dengan cara yang lama.

Leave a comment