“Meskipun hidup tidak memiliki makna objektif dan rasional (absurd), manusia tidak perlu bunuh diri atau lari ke ilusi makna, melainkan justru hidup sepenuhnya dan menemukan kebebasan dengan sadar menerima absurditas itu—sehingga kita harus membayangkan Sisifus sebagai manusia yang bahagia.” Mitos Sisifus – Albert Camus
Dia Sang Pencipta, Sang Sutradara Agung, semua cerita adalah Dia yang merangkainya, sementara kita hanya menjalani lakon yang diberikan begitu saja.
Terkadang memang tak ada logika dalam kehendakNya. Tak sesuai dengan sebab-akibat secara umum. Seorang yang berbuat baik bisa saja mengalami kesulitan dan disebut sebagai ujian. Seorang yang berbuat buruk bisa saja mengalami kemudahan dan disebut Istidraj.
Atau rasio memang tak sanggup mencerna semua itu. Sebab silogisme selalu mempertimbangkan sesuatu berdasarkan variable yang diketahui. Sementara Dia menyimpan banyak kejutan dan rahasia.
Mau tidak mau, nalar kita akan menyimpulkan bahwa kehidupan ini sangatlah Absurd. Dan apabila kita mampu menerima absurditas itu, menjalani lakon dengan ikhlas, tetap bersyukur apapun yang terjadi, dan menjadi hamba yang sesungguhnya, disanalah Islam itu.
Islam Sebagai Bentuk Formal
Islam dalam bentuk formal adalah Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Seseorang disebut muslim melalui dua cara:
- Mengucap dua kalimat syahadat
- Keturunan muslim
Disebut bentuk formal, karena ia ibarat sebuah bentuk atau wadah yang bisa dimasuki dengan suatu cara tanpa perlu menjalankan implikasi dari berislam itu sendiri.
Seseorang tetap dikatakan sebagai seorang muslim meski:
- tidak menjalankan rukun islam kedua hingga kelima dengan baik
- tidak bersyukur
- tidak menerima takdir Allah
Hakikat Islam
Setiap muslim sering diajarkan bahwa:
- Agama yang diturunkan Allah dari zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah Islam
- Islam adalah berserah diri kepada Allah
Bukan sekedar bersyahadat dan menjalankan ibadah formal. Melainkan sungguh-sungguh menjalankan intisari Islam, yaitu berserah diri kepada Allah.
Bukan sekedar mengaku Islam dan memaksa disebut muslim. Mereka adalah yang takut apabila bangun di hari kebangkitan nanti, dan ternyata keislamannya tidak diakui. Padahal ia merasa telah menjalankan semua ritual yang diminta.
Ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam berserah diri kepada Allah. Ini meliputi kekeliruan yang sering terjadi:
- Berserah diri kepada Allah bukan menolak untuk berusaha dan pasrah kepada takdir. Melainkan, berusaha semaksimal mungkin dan menerima apapun hasilnya meski jauh dari ekspektasi
- Berserah diri kepada Allah bukan menolak menjalankan syari’at dan merasa cukup dengan sikap pasrah. Bagaimana mungkin kita disebut telah pasrah kepada Allah, apabila kita menolak wahyu terakhir yaitu syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad?
Mereka yang Berserah Diri Kepada Allah (Muslim)
Menerima lakon yang diberikan
Diberi kondisi miskin, maka perintahNya adalah berusaha
Diberi kondisi kaya, maka perintahNya adalah bersedekah dan berzuhud
Miskin dan kaya adalah ujian. Miskin ujiannya adalah mencari, kaya ujiannya adalah memberi.
Dalam menerima lakon tugas kita adalah sabar
Dimana letak sabarnya seorang yang hanya diam menerima derita?
Kesabaran terletak pada mampu menerima kegagalan pada usaha yang dilakukan semaksimal mungkin
Pasrah kepada apapun hasil dari usahanya
Bila diberi gagal ia bersyukur. Bila diberi sukses ia bersyukur
Dalam pasrah kepada hasil tugas kita adalah syukur
Bayangkanlah sebuah dunia dimana orang miskinnya giat berusaha dan orang kayanya giat bersedekah.
Ini bukan Utopia. Ini pernah terjadi dahulu, ketika tidak ada lagi penerima zakat dari suatu kota
Menjadi Hamba Allah semata
Seorang hamba menerima apapun yang Tuannya berikan. Melakukan apapun yang Tuannya perintahkan.
Perhatikan. Tuan kita adalah Allah semata.
Kita tidak boleh menunduk kepada manusia dan merendah di hadapan mereka, meskipun mereka adalah penguasa atau ‘ulama.
Penguasa dan ‘ulama yang benar adalah hamba Allah juga.
Dan seorang hamba tidak akan memperhamba manusia lainnya.
Hindarilah segala bentuk feodalisme kepada penguasa dan ‘ulama. Hal ini menjadi salah satu topik penting di Indonesia zaman ini.
Ikutilah para penguasa dan ‘ulama yang rendah hati dan tidak memperhamba kita. Kepada mereka semata kita diperkenankan menjalankan tugas sebab mereka adalah wakil dan perpanjangan tangan Ilahi.
Tidak Khawatir Kepada Takdir Allah yang Akan Datang
Masa depan menyimpan keberuntungan dan kesialan yang akan menjamah kita. Kita telah mampu menerima Qada dan Qadar itu, tapi hati tetap khawatir.
Sikap ini pun tidak pantas ada pada seorang muslim. Untuk menghilangkannya ada satu hal yang perlu dipahami.
Di Surga Firdaus ada kenikmatan yang paling agung, yang mampu mengalihkan perhatian penghuni surga hingga terserap pada kenikmatan itu semata: Melihat Allah SWT.
Surga Kedekatan.
Saking agungnya kenikmatan tersebut, rasanya mampu menembus pagar Surga, mengarungi jarak antara akhirat dan dunia, lalu memasuki relung-relung terdalam hati manusia.
Bila Surga Kedekatan tiba, segala derita akan sirna dan bahagia tak terasa. Manis yang tumbuh di kedalaman batin, yang tak terlukiskan kata-kata. Melampaui definisi kata bahagia. Rasa yang tumbuh melalui rindu dan cinta.
Setelah kita mampu berserah diri kepada Allah sepenuhnya, hati kita akan terbuka menerima cahayaNya.
Jangan takut. Karena pada saat itu, tidak ada lagi rasa sakit dan derita.
Penutup
Dibuka dengan Filsafat Eksistensialisme Albert Camus. Kehidupan memang Absurd dan makna hidup harus kita cari sendiri.
Ini penting karena kesimpulan dari Filsafat ini, adalah kontribusi akal yang membuat seruan untuk bahagia itu menjadi tidak dogmatis.
Takdir memang absurd. Berhentilah memikirkannya, apalagi mencari pembenaran logis atasnya.
Ada orang yang kaya seumur hidup dan ada yang cacat serta miskin seumur hidup. Jika itu yang Dia mau, memangnya kenapa? Dia selalu punya cara melalui apa hati itu dibuat bahagia.
Banyak yang sudah memikirkan masalah ini sejak dulu. Dan Albert Camus, seorang yang hidup tanpa petunjuk dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi, dengan penalarannya mampu mencapai sebuah kesimpulan bahwa kita harus menerima absurditas kehidupan dan membuatnya bermakna.
Kita tidak lagi membayangkan bahwa Sisifus bahagia. Bahkan Sisifus adalah seorang muslim dan ia bahagia.

Leave a comment