Thiflul Ma’ani – Kembali Menjadi Anak Kecil di Dalam Kesadaran

Baby sitting on cushioned window seat looking out a window with sheer curtains

Ada sesuatu yang sangat aneh pada bayi.

Ia bisa tersenyum kepada siapa saja. Bahkan kepada seseorang yang, dalam ukuran dunia orang dewasa, adalah sosok yang berbahaya. Bukan karena bayi itu bodoh. Bukan karena ia belum tahu apa-apa. Tetapi karena apa yang hadir di hadapan kesadarannya belum tercemar oleh tafsir.

Yang hadir hanyalah wajah. Gerak. Cahaya. Kehadiran.

Belum ada label.

Belum ada prasangka.

Belum ada narasi masa lalu.

Belum ada ketakutan masa depan.

Bayi tidak sedang berbaik sangka. Bayi bahkan tidak tahu apa itu sangka.

Ia hanya mengalami.

Di titik inilah kita mulai menyadari bahwa kebahagiaan bayi bukan berasal dari dunia yang baik, tetapi dari kesadaran yang belum dipenuhi oleh interpretasi.


Seiring bertambah usia, kita belajar sesuatu yang disebut “memahami dunia”. Kita belajar mengenali bahaya, membaca niat orang, mengingat pengalaman pahit, menimbang kemungkinan buruk yang akan datang. Semua ini membuat kita menjadi orang dewasa yang cerdas. Tetapi tanpa kita sadari, bersamaan dengan itu, kita juga kehilangan sesuatu yang sangat mahal: kemurnian cara mengalami realitas.

Kita tidak lagi melihat apa yang ada di hadapan kita. Kita melihat apa yang ada di kepala kita.

Setiap wajah membawa riwayat.

Setiap situasi membawa kekhawatiran.

Setiap kejadian membawa tafsir.

Kita hidup bukan di dunia, tetapi di dalam narasi yang terus berjalan di batin kita.


Sering kali kita diminta untuk berbaik sangka. Namun kita ragu. Kita takut berbaik sangka kepada orang yang ternyata berniat jahat. Kita takut jika kebaikan persepsi kita justru membuat kita terluka.

Namun barangkali yang perlu diubah bukanlah prasangka kita terhadap orang, melainkan cara kita mengisi kesadaran kita.

Bukan tentang orangnya.

Bukan tentang situasinya.

Tetapi tentang apa yang kita izinkan tinggal di dalam batin kita.

Di sinilah terjadi pergeseran yang halus namun mendasar.

Kita tidak lagi berusaha meyakini bahwa orang itu baik. Kita hanya memilih untuk menghadirkan hal-hal yang membuat kesadaran kita tetap jernih dan bahagia. Kita membiarkan akal bekerja di ranah tindakan, tetapi kita tidak membiarkan narasi negatif menguasai ruang batin.

Kita tetap waspada. Tetap rasional. Tetap dewasa dalam proses dunia.

Namun di dalam kesadaran, kita kembali menjadi anak kecil. Bayi Maknawi.


Ini bukan kemunduran. Ini bukan kenaifan. Ini bukan ketidakpedulian terhadap realitas.

Ini adalah pemisahan yang sangat matang antara dunia proses dan dunia kesadaran.

Di dunia proses, kita tetap bekerja, berpikir, berhitung, merencanakan, dan menjaga diri. Kita tetap menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Namun di dunia kesadaran, kita berhenti memelihara hal-hal yang mengotori batin kita. Kita berhenti memberi tempat pada ketakutan yang tidak perlu, kebencian yang tidak produktif, dan prasangka yang hanya menambah beban.

Kita tidak lagi membiarkan dunia menentukan isi batin kita.


Pada titik ini, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada keadaan. Ia tidak menunggu dunia menjadi ramah. Ia tidak menunggu orang lain berubah. Ia tidak menunggu kondisi materi membaik.

Kebahagiaan menjadi sesuatu yang muncul dari cara kesadaran memilih pengalamannya sendiri.

Bahkan ketika dunia fisik tidak bersahabat, batin tetap memiliki ruang yang tidak bisa disentuh oleh apa pun.

Seperti bayi yang tersenyum bukan karena dunia aman, tetapi karena kesadarannya bersih.


Menjadi seperti anak kecil di dalam kesadaran bukan berarti berhenti menjadi orang dewasa di dalam kehidupan. Kita tetap bekerja. Tetap berusaha. Tetap menjalani mekanisme dunia. Bukan karena kita membutuhkannya untuk bahagia, tetapi karena itu adalah hal baik yang layak dilakukan.

Dengan bekerja, kita membantu orang lain yang kebahagiaannya masih berkaitan dengan materi. Dengan bertindak, kita tetap berkontribusi pada dunia. Namun kita tidak lagi menggantungkan kebahagiaan kita pada hasil dari semua itu.

Kita melakukan karena itu baik, bukan karena kita kekurangan.


Mungkin inilah yang dimaksud dengan kembali menjadi anak kecil, bukan secara usia, tetapi secara cara mengalami realitas. Sebuah kemurnian yang tidak lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari pemahaman yang telah melampaui kebutuhan untuk menilai segala sesuatu.

Kita tetap melihat dunia apa adanya. Namun kita memilih untuk tidak membawa seluruh beban dunia itu ke dalam kesadaran kita.

Dan di sanalah kebahagiaan menemukan rumahnya kembali.

Leave a comment