Ada satu fase dalam hidup ketika kita berhenti melihat dunia sebagai rangkaian kejadian, lalu mulai melihatnya sebagai rangkaian perjumpaan.
Awalnya, semua tampak sederhana dan terpisah-pisah.
Berkelana adalah keinginan aku.
Kesepian adalah perasaan orang lain.
Target adalah tuntutan orang lain.
Semua fenomena terasa punya aktor yang jelas. Selalu ada manusia di baliknya. Selalu ada kehendak, emosi, harapan, kekecewaan, dan kepentingan manusia yang bisa ditunjuk. Tidak ada yang benar-benar murni benda mati. Tidak ada yang sungguh-sungguh netral. Semua peristiwa selalu memiliki wajah manusia.
Aku merasa sudah cukup dalam mengamati ini. Aku merasa sudah fenomenologis: melihat realitas bukan sebagai benda, tapi sebagai jejaring kehendak manusia yang saling berkelindan.
Namun di tengah pengamatan itu, muncul satu keganjilan yang lama tak kusadari:
Di antara semua aktor yang terlihat, ada satu Aktor yang justru tidak pernah kulihat.
Allah.
Aku melihat aku.
Aku melihat orang lain.
Aku melihat keinginan-keinginan.
Aku melihat kerapuhan, tuntutan, ambisi, kegelisahan.
Tapi aku tidak melihat Allah di dalamnya.
Di situlah kesadaranku bergeser.
Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku hanya berhenti pada sebab-sebab yang kasat mata. Aku berhenti pada manusia sebagai penjelasan terakhir dari sebuah kejadian. Padahal manusia hanyalah peran. Mereka bukan sumber akhir dari apa yang terjadi.
Fenomena-fenomena itu ternyata bukan hanya tentang relasi antar manusia. Ia adalah media. Ia adalah panggung. Ia adalah bahasa.
Dan bahasa itu sedang dipakai untuk berbicara kepadaku.
Inilah yang kemudian kupahami sebagai dzikir fenomenologis.
Dzikir yang tidak dimulai dari lisan.
Dzikir yang tidak dimulai dari ritual.
Dzikir yang dimulai dari cara memandang realitas.
Apa pun yang hadir dalam kesadaran, bukan lagi berhenti pada:
“Siapa yang melakukan ini kepadaku?”
Melainkan bergeser menjadi:
“Apa yang sedang Allah tunjukkan kepadaku melalui ini?”
Berkelana tidak lagi sekadar keinginan pribadi. Ia menjadi cermin tentang ketergantunganku pada suasana.
Ujian pernikahan tidak lagi sekadar tentang kerapuhan pasangan. Ia menjadi cara Allah memperlihatkan kualitas kasih sayangku.
Tekanan kerja tidak lagi sekadar tentang perusahaan yang menuntut. Ia menjadi cara Allah menguji keikhlasanku bekerja tanpa bergantung pada pengakuan.
Realitas tidak berubah. Orang-orang tidak berubah. Kejadian tidak berubah.
Yang berubah adalah lensa.
Dan perubahan lensa itu mengubah seluruh pengalaman hidup.
Aku mulai merasakan bahwa tidak ada lagi kejadian yang netral. Tidak ada lagi peristiwa yang kosong dari makna. Tidak ada lagi hari-hari yang berlalu begitu saja. Semua terasa seperti dialog yang terus berlangsung.
Seakan-akan Allah berbicara tanpa suara, melalui manusia, melalui situasi, melalui keinginan, melalui kegelisahan.
Di titik ini, aku teringat pada konsep ihsan yang dijelaskan dalam hadits oleh Muhammad: beribadah seakan-akan melihat Allah.
Selama ini, aku mengira itu hanya berlaku di dalam shalat.
Kini aku menyadari: mungkin yang dimaksud bukan hanya di sajadah, tapi di jalan raya, di ruang kerja, di dalam rumah, di dalam percakapan, di dalam konflik, di dalam keinginan.
Melihat Allah di dalam shalat itu mudah karena suasananya mendukung.
Melihat Allah di dalam konflik, tuntutan, kekecewaan, dan ambisi—itulah latihan yang sesungguhnya.
Di sini aku mulai memahami makna yang pernah ditulis oleh Al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din: bahwa tingkat dzikir tertinggi bukanlah banyaknya ucapan, melainkan cara pandang yang tidak pernah lepas dari Allah.
Ketika realitas itu sendiri menjadi dzikir. Dzikir tanpa kata dan tanpa suara.
Aku tidak lagi perlu memaksa diri untuk mengingat. Karena setiap peristiwa otomatis mengingatkanku.
Aku tidak lagi melihat manusia sebagai sumber utama kebahagiaan atau penderitaan. Mereka hanyalah perantara. Mereka hanyalah huruf-huruf dalam kalimat yang sedang disusun.
Dan kalimat itu sedang ditujukan kepadaku.
Di titik ini, aku merasa seperti selama ini hanya menonton para aktor di atas panggung. Aku sibuk menilai peran mereka, menyalahkan mereka, mengagumi mereka, berharap pada mereka.
Padahal aku lupa mencari siapa Sutradaranya.
Dzikir fenomenologis adalah upaya untuk mulai melihat Sutradara itu.
Dan ketika itu mulai terlihat, hidup terasa jauh lebih tenang. Bukan karena masalah hilang. Bukan karena orang-orang berubah. Tapi karena aku tidak lagi berhenti pada manusia.
Aku mulai melihat bahwa di balik setiap wajah manusia, ada kehendak yang lebih besar yang sedang bekerja.
Dan di sanalah, perlahan-lahan, aku belajar melihat Allah bukan hanya di dalam ibadah, tapi di dalam seluruh peristiwa hidupku.

Leave a comment