Dari Ilmu ke Jejak yang Tak Pernah Pergi

Sunlight beams entering dusty attic with wooden trunks, cobwebs, shelves, and scattered old items

Kita memulai dari pertanyaan yang tampak sederhana: apa itu ilmu?

Jawaban awal mengarah pada sesuatu yang bisa dipahami, dikenali polanya, diuji, dan dikomunikasikan. Ilmu, dalam pengertian umum, adalah pengetahuan yang bisa dibagikan dan diverifikasi.

Namun bayangkan sebuah kondisi ekstrem: jika hanya ada satu manusia di dunia ini. Tidak ada orang lain untuk diajak bicara, tidak ada pihak lain untuk menguji kebenaran. Dalam situasi itu, syarat “dikomunikasikan” gugur. Bahkan “diuji” pun berubah makna. Yang tersisa hanyalah konsistensi pengalaman di dalam kesadaran diri sendiri.

Di titik ini, ilmu bergeser. Ia tidak lagi tentang kesepakatan bersama, melainkan tentang keteraturan yang dikenali oleh kesadaran. Ilmu menjadi pola keterpahaman yang stabil dalam pengalaman sadar.

Lalu pertanyaan berikutnya muncul: apa itu memahami?

Memahami ternyata bukan sekadar melihat atau merasakan, tetapi kemampuan kesadaran untuk mengenali pola dan mengaitkannya dengan pengalaman lain hingga menjadi utuh dan bermakna.

Dari sini kita sampai pada sesuatu yang lebih dalam: ingatan.

Karena tanpa ingatan, tidak ada pengaitan. Tidak ada pola. Tidak ada pemahaman.

Namun ingatan segera menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih sulit: di mana ia tersimpan? Apakah ia berada di otak sebagai materi? Jika ya, maka ketika materi itu tiada, apakah ingatan ikut lenyap?

Jika kita tetap berada dalam sudut pandang material, jawabannya jelas: ingatan adalah jejak fisik pada jaringan saraf di Otak manusia. Tetapi ketika kita menggeser pembahasan ke wilayah metafisik, cara bertanya pun harus berubah.

Pertanyaan “di mana” ternyata tidak lagi relevan.

Ingatan tidak berada di tempat. Ia berada dalam cara keberadaan.

Saat tidak diingat, ia tidak hilang, melainkan berada sebagai potensi laten. Saat diingat, ia tidak berpindah tempat, melainkan menjadi hadir dalam kesadaran saat ini. Ia bergerak bukan secara spasial, tetapi secara ontologis: dari laten menjadi aktual.

Dalam fenomenologi Edmund Husserl, ini mendekati konsep retention—jejak pengalaman yang masih-hadir dalam arus kesadaran. Dalam pemikiran Henri Bergson, ini selaras dengan mémoire pure—ingatan murni yang tidak bertempat di otak, melainkan di ranah non-spasial durasi kesadaran.

Di sini kita mulai melihat bahwa apa yang selama ini kita sebut “ingatan” sebenarnya bukanlah benda yang disimpan. Ia lebih tepat disebut jejak ontologis—bekas keberadaan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Menariknya, pola pemikiran ini memiliki gema yang kuat dalam tradisi spiritual Islam, melalui konsep Lauhul Mahfudz. Dalam kosmologi ini, seluruh jejak makna dan ketetapan ciptaan tidak pernah hilang; semuanya “tercatat” dalam tatanan Ilahi yang tidak bersifat ruang dan materi.

Strukturnya serupa:

sesuatu tidak pernah hilang, hanya tidak selalu tampak.

Perbedaannya terletak pada tingkat keberadaannya. Pada Husserl dan Bergson, jejak itu berada dalam struktur kesadaran. Pada Lauhul Mahfudz, jejak itu berada dalam Kitab yang Nyata.

Namun keduanya menunjuk pada kesimpulan yang sama:

realitas tidak habis oleh apa yang sedang tampak sekarang.

Dari perjalanan ini, definisi ilmu yang kita mulai tadi tampak berubah makna. Ilmu bukan lagi sekadar sesuatu yang bisa diuji dan dikomunikasikan. Ia menjadi sesuatu yang bergantung pada kemampuan kesadaran mengenali pola, yang bergantung pada ingatan, yang ternyata bukan penyimpanan, melainkan jejak keberadaan yang selalu mungkin hadir kembali.

Maka memahami bukan lagi aktivitas mental biasa. Mengingat bukan lagi proses mengambil data. Keduanya adalah peristiwa ontologis: membuat yang laten menjadi hadir.

Dan mungkin, di titik terdalam refleksi ini, kita menyadari bahwa diri kita sendiri bukanlah kumpulan momen yang lewat, melainkan kelanjutan dari jejak yang tidak pernah benar-benar pergi.

Leave a comment