Rasa adalah kenyataan.
Pernyataan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin lama direnungkan, semakin ia mengguncang cara kita memahami dunia. Sejak kecil kita diajarkan bahwa kenyataan adalah benda-benda yang berada di luar diri kita: gunung, pohon, manusia, makanan, rumah, dan seluruh alam semesta yang dapat disentuh oleh pancaindra. Namun ketika ditinjau dari sudut pandang fenomenologis, kenyataan ternyata tidak pernah hadir kepada kita secara langsung. Yang hadir hanyalah pengalaman tentangnya.
Kita tidak pernah berjumpa dengan gula sebagaimana adanya. Kita hanya berjumpa dengan rasa manis.
Kita tidak pernah berjumpa dengan api sebagaimana adanya. Kita hanya berjumpa dengan panas, cahaya, dan sensasi yang ditimbulkannya.
Bahkan ketika kita berjumpa dengan manusia lain, yang sesungguhnya hadir dalam kesadaran bukanlah manusia itu sendiri, melainkan pengalaman tentang manusia tersebut.
Maka muncul pertanyaan yang menggelitik:
Apabila tidak ada gula di dalam mulut namun kita tetap merasakan manis, apakah pengalaman manis itu kurang nyata dibandingkan manis yang dihasilkan oleh gula sungguhan?
Bagi kesadaran, keduanya sama-sama hadir sebagai pengalaman. Keduanya sama-sama nyata.
Inilah Revolusi Fenomenologis yang pernah kita bahas sebelumnya.
Dari Bentuk Menuju Rasa
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering tertipu oleh bentuk.
Kita menganggap bentuk sebagai kenyataan dan rasa sebagai akibat. Padahal dari sudut pandang pengalaman, justru rasa lah yang pertama kali hadir. Bentuk hanyalah perantara.
Bayangkan dua benda yang berbeda bentuk namun memiliki rasa yang sama. Sebuah coklat berbentuk sepatu dan coklat berbentuk kotak. Sebuah permen rasa nanas dan buah nanas itu sendiri.
Ketika rasa yang muncul identik, bentuk menjadi sekadar variasi penampilan.
Karena itu dapat dikatakan bahwa rasa merupakan sesuatu yang lebih dekat kepada inti pengalaman dibandingkan bentuk.
Bentuk dapat berubah.
Rasa tetap dikenali.
Bentuk dapat menipu.
Rasa mengungkapkan sesuatu.
Maka rasa bukan sekadar sensasi. Ia adalah cara sesuatu menampakkan dirinya kepada kesadaran.
Apa Itu Rasa?
Rasa berfungsi sebagai pembeda.
Melalui rasa, kesadaran mengetahui bahwa sesuatu berbeda dari yang lain.
Tanpa rasa, semua akan menjadi datar dan identik.
Rasa bukan hanya milik makanan.
Ada rasa rumah.
Ada rasa kampung halaman.
Ada rasa persahabatan.
Ada rasa kehilangan.
Ada rasa kemenangan.
Ada rasa seorang ibu.
Ada rasa seorang guru.
Bahkan sebuah kata pun memiliki rasa.
Ketika mendengar kata “merdeka”, “cinta”, atau “kematian”, yang muncul bukan hanya rangkaian huruf. Ada kualitas pengalaman yang menyertainya.
Karena itu rasa dapat dipahami sebagai kualitas pengalaman yang muncul ketika kesadaran bersentuhan dengan sesuatu.
Objek tetap berada di luar.
Yang masuk ke dalam kesadaran adalah rasanya.
Memanggil Rasa Tanpa Kehadiran Objek
Setelah memahami bahwa rasa lebih dekat kepada pengalaman dibandingkan bentuk, muncul pertanyaan yang lebih menarik:
Apakah rasa dapat dihadirkan tanpa kehadiran objek fisiknya?
Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa jawabannya adalah ya.
Kita dapat membayangkan es batu dan merasakan kesegarannya.
Kita dapat mengingat rumah masa kecil dan merasakan kerinduan.
Kita dapat mengingat seseorang dan merasakan kehangatan atau kesedihan yang dahulu pernah hadir.
Dari berbagai percobaan batin, tampak bahwa munculnya rasa membutuhkan setidaknya tiga tahapan.
Pertama: Menghadirkan Objek
Kesadaran harus terlebih dahulu mengenali apa yang hendak dipanggil.
Nama, gambar, suara, atau simbol menjadi pintu masuk.
Ini adalah proses tokenisasi.
Kesadaran perlu mengetahui apa yang sedang dihadirkannya. Ia bisa berbentuk visual, audio, atau sesuatu yang sangat abstrak.
Kedua: Menghadirkan Keunikannya
Menghadirkan objek saja belum cukup.
Kita perlu menyadari apa yang membuat objek itu berbeda dari yang lain.
Keunikan inilah yang mendekati esensi.
Buah nanas bukan sekadar buah.
Ia memiliki karakter tertentu yang membedakannya dari mangga, apel, atau jeruk.
Ketika keunikan itu diingat, rasa mulai menguat.
Ketiga: Menghadirkan Implikasinya
Inilah tahap yang sering terlewat.
Kebanyakan orang berhenti pada gambaran objek.
Padahal rasa sering kali muncul bukan karena objek itu sendiri, melainkan karena dampak yang ditimbulkannya.
Es menghadirkan segar.
Rumah menghadirkan aman.
Sahabat menghadirkan nyaman.
Guru menghadirkan pemahaman.
Yang dirindukan sering kali bukan bendanya, melainkan keadaan batin yang dihasilkannya.
Karena itu fokus utama bukan lagi pada objek, tetapi pada konsekuensi pengalaman yang dibawanya.
Tentang Esensi
Semakin jauh penyelidikan ini dilakukan, semakin tampak bahwa rasa berkaitan erat dengan esensi.
Esensi bukanlah bentuk.
Esensi adalah apa yang membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri.
Dalam bahasa sederhana, esensi dapat dipahami sebagai fungsi terdalam atau karakter paling khas yang dimiliki oleh sesuatu.
Ketika dua kata berbeda memiliki fungsi makna yang sama, kita menyebutnya sinonim.
Ketika permen mampu menghadirkan pengalaman yang sama dengan buah nanas, kita menyebutnya permen rasa nanas.
Di balik bentuk yang berbeda terdapat esensi yang serupa.
Dan kesadaran tampaknya lebih mudah berhubungan dengan esensi daripada dengan bentuk.
Kesulitan Memanggil Rasa Manusia
Semua teori di atas bekerja dengan baik untuk benda, makanan, tempat, atau suasana.
Namun muncul tantangan baru ketika objeknya adalah manusia.
Menghadirkan wajah seseorang relatif mudah.
Mengingat suaranya juga tidak terlalu sulit.
Namun menghadirkan rasa dirinya ternyata jauh lebih kompleks.
Mengapa?
Karena manusia bukanlah objek sederhana.
Sebuah buah mungkin memiliki beberapa karakteristik.
Tetapi seorang manusia mengandung sejarah, kenangan, emosi, nilai, kebiasaan, harapan, luka, dan berbagai lapisan makna yang saling bertumpuk.
Ketika kita mengingat seseorang, sesungguhnya kita sedang mengingat dunia yang dibawanya.
Kita mengingat caranya berbicara.
Kita mengingat cara ia tertawa.
Kita mengingat kebiasaan-kebiasaannya.
Kita mengingat momen-momen yang pernah dilalui bersama.
Kita mengingat bagaimana kehadirannya mengubah keadaan batin kita.
Karena itu rasa seorang manusia tidak dapat dipanggil hanya melalui gambaran wajah.
Ia perlu dibangun dari banyak lapisan pengalaman.
Esensi Seorang Manusia
Lalu apa esensi seorang manusia?
Apakah aktivitasnya?
Apakah pekerjaannya?
Apakah kebiasaannya?
Mungkin bukan.
Sebab semua itu dapat berubah.
Yang lebih dekat kepada esensi adalah pola yang terus muncul di balik seluruh aktivitas tersebut.
Ketulusan.
Keberanian.
Kelembutan.
Kebijaksanaan.
Kasih sayang.
Kehadiran.
Ketika seseorang meninggal, yang paling lama tinggal dalam ingatan bukanlah detail-detail aktivitasnya.
Yang tinggal adalah kualitas keberadaannya.
Bukan apa yang ia lakukan.
Tetapi apa yang ia pancarkan.
Mungkin di situlah esensi manusia bersemayam.
Rasa Sebagai Tujuan
Pada akhirnya, penyelidikan ini mengarah kepada kesimpulan yang mengejutkan.
Barangkali selama ini kita tidak benar-benar mengejar objek.
Kita mengejar rasa.
Kita tidak mengejar rumah. Kita mengejar rasa aman.
Kita tidak mengejar harta. Kita mengejar rasa cukup.
Kita tidak mengejar pasangan. Kita mengejar rasa dicintai.
Kita tidak mengejar kesuksesan. Kita mengejar rasa bermakna.
Objek hanyalah pintu.
Rasa adalah tujuan.
Dan apabila rasa dapat dihadirkan tanpa kehadiran objek fisiknya, maka manusia sesungguhnya memiliki kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia sadari.
Ia tidak hanya mampu mengalami kenyataan.
Ia mampu memanggil sebagian kenyataan itu ke dalam kesadarannya.
Mungkin karena itulah para perenung, para sufi, dan para pencari makna selalu menaruh perhatian besar kepada dunia batin.
Mereka memahami sesuatu yang sering luput dari perhatian kebanyakan orang:
Bahwa dunia luar hanyalah undangan.
Sedangkan pengalaman yang sesungguhnya selalu terjadi di dalam kesadaran.
Dan di sanalah rasa menjadi kenyataan yang paling dekat dengan diri kita.

Leave a comment