Detik-Detik yang Menguap

Glowing human figure with ethereal particles amid floating antique pocket watches

Detik demi detik berlalu, terdengar cepat dan menghentak bak rentetan senapan serbu yang tak kunjung reda. Tengah malam telah lewat; jarum jam kini menunjuk angka setengah satu. Ia masih terjaga, memaksakan diri melawan kantuk. Sebab esok, waktu tak lagi menjadi miliknya. Malam ini adalah satu-satunya sisa dari segalanya, dan ia hanya ingin hadir sepenuhnya—tanpa terlelap, tanpa riuh pikiran, tanpa kehilangan satu tarikan napas pun.

Ia adalah seorang prajurit yang harus berangkat di ambang fajar, meninggalkan istri dan anak-anaknya.

Dalam keremangan malam, ia memandangi wajah-wajah yang dicintainya itu satu per satu. Mereka terlelap dalam hening yang murni, tenggelam dalam ketenangan seolah dunia di luar sana baik-baik saja. Namun, ia memikul beban yang tak mereka ketahui. Saat pagi tiba, ia akan berjalan menuju medan di mana kematian mungkin telah menanti. Jauh di lubuk hatinya, ia sadar probabilitas untuk tak pernah kembali jauh lebih besar daripada yang sanggup ia akui.

Maka malam ini, ia tidak sedang sekadar menunggu pagi. Ia sedang memahat ingatan, merekam semuanya untuk yang terakhir kali.

Di tempat lain, ia adalah seorang tahanan yang tengah menghitung jam menuju eksekusi mati.

Sepiring hidangan kesukaannya dibiarkan mendingin di atas meja, tak tersentuh. Dinginnya makanan itu terasa lebih menusuk ketimbang jeruji besi yang selama ini mengurung tubuhnya. Andai waktu sudi diputar kembali, ia takkan meminta kehidupan yang berbeda. Ia tidak ingin menghapus dosa, mengubah takdir, atau memilih persimpangan yang lain.

Ia hanya mengemis satu kesempatan lagi untuk menjalani kehidupan yang sama.

Untuk terbangun di pagi yang sama, menatap wajah-wajah yang sama, mengunyah makanan yang sama, dan meresapi suara-suara biasa yang dulu luput dari pendengarannya. Hanya satu kesempatan untuk mengulang semuanya—bukan untuk mengubah apa pun, melainkan untuk hadir seutuhnya. Penyesalan terbesarnya bukanlah rentetan hidup yang telah ia jalani, melainkan betapa banyak momen kehidupan tersaji di depan mata, namun tak pernah benar-benar ia selami.

Dan pada akhirnya, ia adalah orang biasa—seseorang yang selalu terbuai ilusi bahwa esok pasti ada.

Tanpa disangka, setiap detik yang lewat sejatinya sarat akan makna; makna yang kini tak sanggup lagi dipetik satu per satu saat waktu kian menipis. Bagaimana mungkin selama ini segalanya dibiarkan menguap begitu saja?

Sesungguhnya, tak ada yang membedakan orang biasa dari mereka yang telah divonis batas usianya. Mereka yang menunggu mati sekadar mengetahui garis akhir itu lebih dulu, sementara sisanya masih dibuai janji palsu tentang hari esok. Jaraknya bukan pada panjang-pendeknya sisa waktu, melainkan pada kemampuan untuk hadir di dalamnya—untuk menyadari setiap detik yang mampir, merengkuh eksistensinya, dan mencecap makna sebelum ia berlalu.

Sebab pada hakikatnya, tak seorang pun dari kita pernah benar-benar memiliki hari esok. Harta yang kita punya hanyalah detik yang sedang berdetak saat ini.

Leave a comment