Kedamaian yang Datang Bersama Luka

Winding path through rugged dawn landscape

Aku pernah berpikir bahwa yang paling kuinginkan dalam hidup adalah kedamaian.

Tidak ada masalah.

Tidak ada keributan.

Tidak ada yang perlu dikejar.

Tidak ada yang mengusik.

Maka ketika kehidupan akhirnya memberiku sedikit ruang untuk berhenti berlari, aku mencoba menikmatinya.

Aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar sesuatu. Aku mencoba menerima hari sebagaimana adanya. Menikmati waktu yang berjalan pelan. Membiarkan kehidupan berlangsung tanpa harus selalu menghasilkan sesuatu.

Dan ternyata, setelah beberapa waktu, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kuduga:

aku bosan.

Ternyata hidup yang terlalu tenang juga dapat terasa hampa.

Aku mulai merindukan sesuatu yang dulu justru ingin kuhindari.

Kesibukan.

Tanggung jawab.

Perjuangan.

Bahkan kesulitan.

Bukan karena aku menyukai penderitaan. Bukan pula karena hidup harus selalu dibuat sulit.

Tetapi karena di dalam perjuangan, ada sesuatu yang tidak kutemukan dalam kenyamanan:

rasa hidup.


Ada kedamaian yang terasa seperti tidak adanya gangguan.

Tetapi ada pula kedamaian yang muncul ketika kita tahu bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang berarti.

Keduanya terasa sangat berbeda.

Ketika aku duduk dalam keadaan nyaman, aku memang tidak memiliki alasan untuk gelisah. Tetapi ketika aku berdiri dan melakukan sesuatu yang kuanggap benar, meskipun melelahkan dan penuh risiko, ada ketenangan yang justru terasa lebih dalam.

Aku mungkin lelah.

Aku mungkin kecewa.

Aku mungkin terluka.

Tetapi di dalam semua itu ada sebuah perasaan sederhana:

aku sedang berada di tempat yang seharusnya.

Mungkin inilah mengapa manusia sering menemukan kedamaian justru setelah memberikan dirinya kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Seorang ibu yang terbangun berkali-kali di malam hari demi anaknya.

Seseorang yang tetap bekerja meskipun tubuhnya lelah demi keluarganya.

Orang yang berdiri membela mereka yang diperlakukan tidak adil.

Mereka yang menghabiskan tenaga untuk membangun sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka nikmati sendiri.

Dari luar, semua itu terlihat seperti perjuangan.

Tetapi dari dalam, mungkin ada kedamaian yang sulit dijelaskan.

Sebab kita tahu:

tenaga kita sedang digunakan untuk sesuatu yang kita yakini bernilai.


Mungkin karena itu aku tidak lagi ingin terlalu takut pada luka.

Bukan berarti aku ingin terluka.

Aku tidak ingin penderitaan.

Aku tidak ingin kesulitan.

Tetapi aku juga tidak ingin hidup sedemikian rupa sehingga seluruh hidupku hanya digunakan untuk menghindari keduanya.

Sebab ada harga yang harus dibayar untuk setiap sesuatu yang bernilai.

Keadilan membutuhkan keberanian.

Kesejahteraan membutuhkan kerja.

Cinta membutuhkan pengorbanan.

Kehidupan bersama membutuhkan kesediaan untuk saling menanggung.

Dan terkadang, keberanian untuk melakukan yang benar berarti kesediaan untuk menerima luka.

Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana agar hidupku tidak menyakitkan?”

Melainkan:

“Untuk apa aku bersedia menanggung rasa sakit?”

Karena rasa sakit yang tidak memiliki makna memang hanya menjadi penderitaan.

Tetapi rasa sakit yang diterima demi sesuatu yang kita cintai dapat berubah menjadi pengorbanan.

Dan di dalam pengorbanan itu, ada kedamaian.


Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari kehidupan yang damai.

Jangan terlalu takut memasuki dunia yang kacau.

Jika ada ketidakadilan, jangan sungkan untuk turun tangan.

Jika ada sesuatu yang harus dibangun, jangan takut bekerja keras.

Jika ada manusia yang membutuhkan pertolongan, jangan terlalu cepat menghitung apa yang akan kita korbankan.

Jika jalan yang benar ternyata penuh luka, jangan langsung menganggap bahwa kita sedang berada di jalan yang salah.

Barangkali luka itu memang bagian dari harga yang harus dibayar untuk tetap menjadi manusia yang utuh.

Kita tidak perlu mencari luka.

Tetapi kita juga tidak perlu lari darinya ketika luka datang bersama sesuatu yang layak diperjuangkan.


Kini aku mulai memahami sesuatu yang dulu tidak kupahami.

Aku kira kedamaian adalah ketika tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.

Ternyata tidak.

Mungkin kedamaian justru muncul ketika aku menemukan sesuatu yang layak kuperjuangkan, lalu bersedia memberikan diriku kepadanya tanpa terus-menerus menghitung apa yang akan kudapatkan kembali.

Di sana aku bisa lelah tanpa merasa sia-sia.

Aku bisa gagal tanpa merasa kehilangan diri.

Aku bisa terluka tanpa merasa hidup telah mengkhianatiku.

Sebab aku tahu untuk apa aku berjalan.

Dan mungkin itulah kedamaian yang lebih hakiki:

bukan kehidupan tanpa luka,

melainkan hati yang tetap utuh ketika luka datang.

Maka jika suatu hari nanti aku kembali merasa bosan dalam kenyamanan, mungkin aku tidak perlu buru-buru mencari hiburan.

Mungkin aku hanya perlu melihat ke luar.

Melihat apa yang sedang membutuhkan tanganku.

Melihat ketidakadilan yang membutuhkan keberanian.

Melihat kehidupan yang membutuhkan tenaga.

Lalu turun tangan.

Bukan untuk menjadi pahlawan.

Bukan untuk mencari kesuksesan.

Bukan pula untuk mendapatkan kebahagiaan sebagai imbalan.

Tetapi karena mungkin, di tengah lelah, keringat, air mata, dan luka yang menyertainya, ada sebuah kedamaian yang tidak akan pernah kutemukan jika aku terus bersembunyi di tempat yang nyaman.

Ada kedamaian yang hanya datang kepada mereka yang bersedia memperjuangkan sesuatu.

Dan mungkin, justru ketika kita berhenti takut kehilangan kenyamanan, kita akhirnya benar-benar mulai hidup.

Leave a comment