Apabila makhluk dua dimensi berusaha melampaui dirinya dan menggapai dimensi ketiga, maka itu adalah sebuah arah yang layak diperjuangkan.
Demikian pula kita yang merupakan makhluk tiga dimensi. Jika kita mencoba memahami, bahkan menggapai, dimensi keempat, mungkin ada sesuatu tentang keberadaan kita yang selama ini tidak kita lihat.
Berdasarkan fisika modern, kita mengenal dimensi keempat sebagai waktu. Einstein menunjukkan bahwa ruang dan waktu tidak berdiri sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah, melainkan membentuk satu kesatuan: ruang-waktu.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pemahaman ini semakin mendapat dukungan dari berbagai pengamatan dan eksperimen.
Lalu manusia mencoba membayangkan seperti apa benda empat dimensi.
Berbagai visualisasi dibuat. Ada yang mengibaratkannya seperti sebuah benda yang memanjang dari awal kemunculannya hingga akhir keberadaannya. Ada pula yang membayangkan manusia bukan sebagai tubuh pada satu waktu tertentu, melainkan sebagai keseluruhan sejarahnya: sejak lahir, tumbuh, menua, hingga mati.
Dalam gambaran seperti itu, seorang manusia bukan lagi hanya tubuh yang sedang duduk di sebuah ruangan sekarang ini. Ia adalah keseluruhan rangkaian keberadaannya di dalam ruang-waktu.
Namun di sinilah aku merasa ada sesuatu yang sering terlewatkan.
Kita terlalu mudah membayangkan dimensi keempat hanya dengan memperpanjang benda tiga dimensi ke arah waktu. Seolah-olah kita hanya mengambil sesuatu yang sudah kita kenal, lalu membuatnya membentang dari awal hingga akhir.
Padahal mungkin persoalannya bukan sekadar bagaimana bentuk sebuah benda ketika dilihat sepanjang waktu.
Mungkin persoalannya adalah: apa yang membuat sesuatu tetap menjadi sesuatu, meskipun bentuknya terus berubah?
Sebuah apel hari ini tidak sama dengan apel kemarin. Ia akan semakin matang, kemudian membusuk, lalu akhirnya tidak lagi menyerupai apel.
Manusia pun demikian.
Tubuh kita berubah. Wajah berubah. Pikiran berubah. Perasaan berubah. Keinginan berubah. Bahkan pandangan kita tentang diri sendiri pun dapat berubah berkali-kali.
Namun kita tetap mengatakan:
“Itu aku.”
Anak kecil yang dahulu berlari-lari, remaja yang pernah bermimpi, orang dewasa yang sekarang sedang membaca tulisan ini, dan seseorang yang kelak akan menjadi tua—semuanya kita sebut dengan satu nama.
Apa yang membuat seluruh perubahan itu tetap menjadi satu keberadaan?
Di sinilah aku mulai melihat dimensi keempat bukan hanya sebagai persoalan tentang waktu, tetapi sebagai jalan menuju pertanyaan tentang identitas.
Secara fisika, tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa konsep atau cinta adalah benda empat dimensi. Itu sudah merupakan langkah keluar dari fisika menuju wilayah filsafat.
Tetapi justru di wilayah itulah renungan ini menjadi menarik.
Jika seluruh perubahan kita bentangkan sepanjang waktu, kita dapat melihat bahwa bentuk selalu berubah. Namun pengertian yang kita berikan kepada sesuatu dapat melampaui bentuk-bentuk tersebut.
Kita mengenal banyak manusia, tetapi ada pengertian tentang “manusia”.
Kita mengalami banyak bentuk cinta, tetapi ada pengertian tentang “cinta”.
Kita menemukan berbagai peristiwa yang berbeda, tetapi kita dapat mengenali “kebaikan”, “keindahan”, “kesedihan”, “keburukan”, dan berbagai pengertian lainnya.
Manifestasinya dapat berubah.
Tetapi pengertian yang kita maksudkan tidak harus ikut berubah setiap kali manifestasinya berubah.
Cinta yang hadir dalam sebuah keluarga mungkin berbeda bentuk dengan cinta antara dua orang kekasih. Cinta seorang ibu kepada anaknya berbeda dengan cinta seorang sahabat. Bentuknya berbeda, pengalaman subjektifnya berbeda, bahkan bahasa yang kita gunakan untuk menjelaskannya pun berbeda.
Namun kita tetap mengenali sesuatu yang sama di balik berbagai manifestasi itu.
Mungkin inilah yang selama ini kita cari ketika berbicara tentang hakikat.
Bukan bentuk yang tampak.
Bukan satu kejadian tertentu.
Bukan satu keadaan yang sedang kita alami.
Melainkan pengertian yang membuat seluruh perubahan itu dapat dikenali sebagai sesuatu yang sama.
Dengan demikian, jika aku ingin mengetahui siapa diriku dalam pengertian yang lebih dalam, mungkin aku tidak perlu mencari gambaran tentang tubuhku yang paling sempurna, pikiranku yang paling jernih, atau perasaanku yang paling stabil.
Aku perlu bertanya:
Apa pengertian tentang diriku yang tetap dapat disebut “aku” di tengah seluruh perubahan yang terjadi kepadaku?
Aku yang kecil.
Aku yang pernah takut.
Aku yang pernah berharap.
Aku yang pernah gagal.
Aku yang pernah bahagia.
Aku yang sekarang.
Dan aku yang kelak akan mati.
Semua itu adalah manifestasi yang berbeda dalam rentang waktu.
Tetapi mungkin ada suatu pengertian yang membuat semuanya tetap dapat disebut sebagai diriku.
Aku tidak tahu apakah pengertian itu dapat ditemukan dengan sempurna.
Kata-kata selalu memiliki keterbatasan. Ketika kita mencoba menjelaskan sesuatu yang sangat dalam, kata-kata hanya mampu menunjuk, tidak pernah sepenuhnya menjadi apa yang ditunjuknya.
Namun mungkin memang demikian cara kita mendekati dimensi yang lebih tinggi.
Bukan dengan memaksakan bentuk yang kita kenal ke dalam sesuatu yang belum kita pahami.
Melainkan dengan perlahan melepaskan ketergantungan kita kepada bentuk.
Dari benda menuju makna.
Dari perubahan menuju identitas.
Dari apa yang tampak menuju apa yang membuatnya dapat dimengerti.
Barangkali makhluk tiga dimensi tidak perlu benar-benar berpindah ke dimensi keempat untuk mulai memahaminya.
Cukup dengan melihat keberadaannya dari sudut yang berbeda.
Sebab selama ini mungkin kita terlalu sibuk bertanya:
“Seperti apa bentukku?”
Padahal pertanyaan yang lebih dalam mungkin adalah:
“Apa pengertian tentang diriku yang tetap ada di balik seluruh bentuk yang berubah?”
Dan mungkin, ketika kita menemukan jawabannya—meskipun hanya melalui kata-kata yang tidak pernah sempurna—kita mulai melihat diri kita bukan lagi sebagai satu bentuk yang kebetulan sedang hadir sekarang, melainkan sebagai sesuatu yang memiliki makna jauh melampaui satu titik di dalam waktu.

Leave a comment