Sebuah kapal di tengah lautan hanya akan tenang ketika ia berpegangan pada jangkar. Ia tidak bisa mengendalikan ombak, tidak bisa menghentikan angin, dan tidak bisa meminta lautan untuk selalu tenang. Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah berpegangan pada sesuatu yang kokoh.
Lalu, kepada siapa manusia harus berpegangan?
Manusia hidup di tengah lautan kehidupan yang tidak pernah berhenti bergerak. Tubuh, pikiran, perasaan, hasrat, dan berbagai peristiwa duniawi senantiasa mengombang-ambingkan dirinya. Barangkali kita tidak pernah benar-benar mampu menghentikan seluruh gerakan itu. Namun, bukankah mungkin untuk menemukan sesuatu yang tidak ikut terombang-ambing bersamanya?
Berpegangan bukanlah tindakan yang bisa dilakukan secara mendadak. Tali dan jangkar harus tersedia sebelum kapal berangkat. Bahkan, jika memungkinkan, keduanya tidak pernah dilepaskan sepanjang perjalanan.
Demikian pula perjalanan manusia menuju keheningan. Ia bukan sesuatu yang dapat diraih hanya dengan sekali duduk, sekali berdzikir, atau sekali mengalami pengalaman spiritual yang mendalam. Berpegangan adalah proses panjang yang membutuhkan latihan, ketekunan, dan kesediaan untuk terus kembali.
Barulah perlahan kita mengenali buhul yang kokoh. Barulah kita belajar berpegangan pada sesuatu yang selama ini mungkin tidak pernah benar-benar jauh.
Tuhan adalah nama yang kita gunakan dalam konteks peribadahan dan penghambaan. Kita menyebut-Nya, memohon kepada-Nya, mencintai-Nya, dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Dalam konteks ontologis, kita mengenal-Nya sebagai Dzat Al-Wajibul Wujud: Hakikat yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada apa pun, yang menjadi dasar bagi segala sesuatu yang ada.
Dia memiliki banyak nama. Bukan karena hakikat-Nya berubah, melainkan karena manusia membutuhkan berbagai cara untuk mengenali, menyebut, dan memahami-Nya dalam konteks yang berbeda-beda.
Pada kedalaman diri, di sanalah tali itu berada.
Maka, perjalanan menuju keheningan bukan semata-mata perjalanan untuk mendekati sesuatu yang berada jauh di luar diri. Barangkali, ia justru merupakan perjalanan untuk menyingkap sesuatu yang selama ini tertutupi oleh berbagai lapisan pengalaman manusia.
Jika demikian, kepada siapa kita berpegangan?
Dan apakah sesungguhnya kita sedang mendekati-Nya, atau sedang menyingkap bahwa tidak pernah ada jarak yang benar-benar memisahkan?
Lantas, apa yang menghalangi kita dari keheningan?
Keributan duniawi tentu saja menjadi salah satunya. Tubuh yang terus menuntut, pikiran yang tidak berhenti bekerja, perasaan yang datang silih berganti, serta hasrat yang senantiasa menginginkan sesuatu. Semua itu dapat membuat kita kehilangan pegangan.
Namun, ada satu penghalang lain yang lebih subtil: keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari keheningan itu sendiri.
Kita mungkin ingin menjadi lebih produktif melalui keheningan. Kita ingin mendapatkan kesuksesan, popularitas, kekayaan, atau bahkan kekuasaan. Kita berharap pengalaman spiritual dapat membawa kehidupan menuju keadaan yang lebih baik.
Tanpa disadari, kita telah menjadikan keheningan sebagai alat untuk mencapai sesuatu.
Padahal, keheningan harus diraih demi keheningan itu sendiri.
Ketika kita menginginkan keheningan karena ingin memperoleh sesuatu, kita masih terikat pada sesuatu yang berada di luar keheningan. Kita masih menggantungkan kedamaian pada hasil, pencapaian, dan keadaan tertentu.
Bukankah ini justru bentuk lain dari keterombang-ambingan?
Keberhasilan duniawi dari keheningan, jika memang terjadi, hanyalah efek samping. Manifestasinya tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia, melainkan terserah kepada Dzat Al-Wajibul Wujud.
Bisa jadi, Dia menjauhkan kita dari keramaian, membebaskan kita dari berbagai keterikatan, dan melalui kesederhanaan itu kita menemukan keheningan yang sempurna membahagiakan.
Namun, bisa jadi pula, Dia menjadikan kita terkenal, kaya, berkuasa, dan berada di tengah keramaian manusia. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dan semua itu tidak harus menghalangi keheningan.
Sebab, keheningan bukanlah keadaan dunia yang berhasil kita ciptakan. Ia bukan sesuatu yang bergantung pada kemiskinan ataupun kekayaan, kesendirian ataupun keramaian, kegagalan ataupun keberhasilan.
Kita tidak harus menunggu dunia menjadi tenang untuk menemukan kedamaian. Kita tidak harus meninggalkan kehidupan untuk menemukan keheningan. Kita juga tidak harus menolak segala pencapaian duniawi demi mendekat kepada-Nya.
Yang perlu kita lepaskan adalah ketergantungan batin terhadap segala sesuatu yang kita anggap sebagai syarat untuk menjadi damai.
Mungkin, pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang menemukan jangkar yang baru.
Jangkar itu telah ada sejak awal. Tali itu tidak pernah benar-benar hilang. Hanya saja, kita terlalu sibuk dengan ombak, terlalu terpikat pada perjalanan, dan terlalu sibuk mencari sesuatu yang lain hingga lupa bahwa kita dapat berpegangan.
Maka, berlatihlah untuk berpegangan.
Bukan agar laut berhenti bergelombang. Bukan agar kapal mencapai pelabuhan yang kita inginkan. Bukan pula agar orang-orang melihat betapa tenangnya perjalanan kita.
Berpeganganlah demi berpegangan itu sendiri.
Dan biarkan segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanan ini terserah kepada-Nya.
Sebab, keheningan bukanlah hadiah yang menunggu setelah kehidupan menjadi sempurna.
Keheningan adalah kedekatan dengan Dzat Al-Wajibul Wujud, bahkan ketika seluruh lautan masih bergelora.

Leave a Reply